Skip to main content

Memahami Gaya Belajar Anak - Day 9

Kami berdua (suami dan saya) sepakat untuk tidak menspesialkan hari ulangtahun. Bertambahnya umur anak hanya sebagai point / tolak ukur anak bisa apa atau harus seperti apa. Atau sebagai penanda "oh, harus vaksin a, b, c" dan sebagainya. Maka, menuju Arsyad berumur 2th kami ingin dia mulai belajar hal baru. Menstimulus lagi kemampuan yang lain. Libur 1 hari kali ini kami sengaja mengajak Arsyad ke toko perlengkapan bayi&anak di Jakarta Barat untuk membeli sepeda anak.

Hari ini (21/09) saya belajar banyak hal melihat bagaimana setelah mendapatkan sepeda yang selama ini diharapkan Arsyad. Apa yang terlihat mudah bagi kita orang tua, belum tentu mudah untuk anak. Banyak hal yang bisa kita contoh dari anak termasuk betapa anak selalu mencoba tanpa menyerah akan hal yang dia inginkan.

Sepeda yang kami pilihkan untuk Arsyad adalah balance bike / kick bike. Bukan karena sepeda ini sedang hitz, tapi karena manfaat yang didapat akan banyak sekali. Melatih keseimbangan, melatih percaya diri, mempercepat proses untuk sepeda roda 2, dan lain sebagainya. Kami kira dengan sepeda kecil dan ringan, bahkan Arsyad bisa langsung duduk dan hanya menggerakkan kakinya untuk menjalankan sepedanya adalah hal mudah. Ternyata salah besar. Sungguh, pengalaman pertama memang luar biasa. Saya cukup bahagia dan puas melihat Arsyad untuk pertama kalinya mencoba sepedanya.

Seharian ini Arsyad mencoba membiasakan diri dengan sepedanya. Berusaha menyeimbangkan badannya, men-sinkronkan antara tangan, badan, dan kakinya supaya stabil. Ah, luar biasa anak ini. Bahkan saat terjatuh pun dia tersenyum bahkan tertawa bahgia dan mencoba lagi.

I am a proud and happy mother. Meskipun berkali-kali gagal tapi anak tetap berusaha terus. *happy tears*

#Day9
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KelasBunsayIIP

Comments

Popular posts from this blog

Fitrah Seksualitas : Latih Kebiasaan Sehari-hari

Penyimpangan bisa saja terjadi karena perilaku sehari-hari yang tanpa kita sadari dapat memicu perilaku yang tidak semestinya. Mungkin bagi kita hal itu tidak penting, tapi bisa jadi, untuk anak kita atau orang lain yang fitrah seksualitasnya belum berakhir dengan sempurna malah menjadi 'tanda tanya' besar untuknya kelak.  Seperti salah satu kutipan dalam presentasi "Parenting is not about the kids, It's about the parents". Anak adalah peniru ulung, maka sebagai orang tua sudah sepatutnya memberikan contoh yang terbaik untuk anaknya. Terutama dalam kebiasaan sehari-hari yang nantinya akan menjadi kebiasaannya kelak suatu hari. Saya mulai membiasakan sedari dini pada anak, saat mandi ya harus di kamar mandi, pintu tertutup. Kalo terbuka biasanya saya langsung komentar, "eh, maluuuu... gak pakai baju. Ayo ditutup pintunya."  Paling bikin deg-deg an saat ini adalah karena anak masih super nempel sama saya, padahal ini sudah 1bulan lebih di ruma...

Aliran Rasa - Fitrah Seksualitas

Alhamdulillah, semakin hari anak saya semakin paham akan gendernya. Terlebih lagi dalam pelaksanaan ibadah. Ramadhan kali ini saya sering mengajaknya buka bersama di masjid dekat rumah eyangnya di Jogja. Semakin dia paham kalo sholat laki-laki di shaf laki-laki. Perempuan dengan perempuan. Alhamdulillah dia sendiri yang meminta saat sholat akan dimulai, dia mencari eyang papinya dan berkata, "Arsyad sholat sama eyang papi. Ibu sholat sama eyang mami." Masya Allah... Kami orang tua hanya bisa berikhtiar. Segala kemudahan ini datangnya dari Allah semata.

Review Presentasi : Indonesia Should Not to be a Fatherless Country

Presentasi ke-5 Kelompok 4 Tema / Judul Presentasi : Indonesia Should Not to be a Fatherless Country Fokus pada permasalahan ‘darurat Ayah’, dimana ayah hanya berfungsi sebagai pencari nafkah saja. Fatherless, ketika ayah hanya hadir secara biologis tidak hadir secara psikologis di dalam jiwa anak.  Dampak dari ketidakhadiran ayah dapat membuat : ·        Sex role model anak menjadi kacau ·        Bagi seorang anak wanita akan membuatnya bingung dan tidak tahu harus mencari seorang pria yang seperti apa dalam hidupnya. ·        Hilangnya sisi maskulinitas yang mengajarkan soal ketegasan dan kedisiplinan. Peran Ayah dalam keluarga, 1.        A man of mission and vision 2.        Pensuplai Ego 3.        Pembangun Struktur Berpikir dan Rasionalitas 4.   ...