Skip to main content

Memahami Gaya Belajar Anak - Day 2

Hari ke 2 untuk memahami lebih lanjut gaya belajar Arsyad, saya mencoba untuk seharian kemaren membebaskan dia akan bermain apa. Ingin rasanya mengekplore stimulus yang bisa Arsyad dapatkan. Bernyanyi tetap kami lanjutkan, bahkan sekarang sudah ada kemajuan menyanyikan cicak di dinding. 

Kegiatan hari ke 2 memang terlihat lebih banyak melakukan gerakan karena Arsyad bermain bersama teman sebayanya di luar rumah.Terlihat kadang Arsyad menjadi leader saat bermain, terkadang dia juga menjadi follower mengikuti temannya kesana kemari. Tetapi masih sangat sulit untuk Arsyad mengikuti gerakan yang dia lihat di youtube. Seperti lagu anak saat bertepuk tangan, lompat, menghentakan kaki. Arsyad masih belum bisa langsung mengikuti. Dia harus mengamati terlebih dahulu apa yang dia lihat di layar.

Mungkin stimmulus untuk gerakannya saat ada 'perintah' akan saya stimulus dengan lagu Kepala, Pundak, Lutut, Kaki. Karena saat menyanyikannya pasti harus diikuti dengan gerakan. Positifnya, Arsyad sudah hapal dan mengenal bagian-bagian tubuh yang sering terlihat dan digunakan. 

Saya sedikit bingung dengan kemampuan kinestetiknya. Kalau dalam hal meniru gerakan seperti menendang, mendorong, memukul, buka tutup pintu, naik turun tangga ataupun kursi, dia sangat cepat sekali mahir. Mungkin memang dari orang tuanya harus lebih aware dan selalu rajib untuk menstimulus inderanya. 

Seharian bermain bersama temannya cukup menguras tenaga Arsyad. Cukup dapat membuat Arsyad segera tidur lebih cepat dari biasanya. Energinya benar-benar dapat tersalurkan dengan baik. 

Semoga hari esok lebih baik lagi dan saya dapat menstimulus kemampuan Arsyad supaya perkembangannya dapat tumbuh semaksimal mungkin.

#Day2
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KelasBunsayIIP

Comments

Popular posts from this blog

Fitrah Seksualitas : Latih Kebiasaan Sehari-hari

Penyimpangan bisa saja terjadi karena perilaku sehari-hari yang tanpa kita sadari dapat memicu perilaku yang tidak semestinya. Mungkin bagi kita hal itu tidak penting, tapi bisa jadi, untuk anak kita atau orang lain yang fitrah seksualitasnya belum berakhir dengan sempurna malah menjadi 'tanda tanya' besar untuknya kelak.  Seperti salah satu kutipan dalam presentasi "Parenting is not about the kids, It's about the parents". Anak adalah peniru ulung, maka sebagai orang tua sudah sepatutnya memberikan contoh yang terbaik untuk anaknya. Terutama dalam kebiasaan sehari-hari yang nantinya akan menjadi kebiasaannya kelak suatu hari. Saya mulai membiasakan sedari dini pada anak, saat mandi ya harus di kamar mandi, pintu tertutup. Kalo terbuka biasanya saya langsung komentar, "eh, maluuuu... gak pakai baju. Ayo ditutup pintunya."  Paling bikin deg-deg an saat ini adalah karena anak masih super nempel sama saya, padahal ini sudah 1bulan lebih di ruma...

Aliran Rasa - Fitrah Seksualitas

Alhamdulillah, semakin hari anak saya semakin paham akan gendernya. Terlebih lagi dalam pelaksanaan ibadah. Ramadhan kali ini saya sering mengajaknya buka bersama di masjid dekat rumah eyangnya di Jogja. Semakin dia paham kalo sholat laki-laki di shaf laki-laki. Perempuan dengan perempuan. Alhamdulillah dia sendiri yang meminta saat sholat akan dimulai, dia mencari eyang papinya dan berkata, "Arsyad sholat sama eyang papi. Ibu sholat sama eyang mami." Masya Allah... Kami orang tua hanya bisa berikhtiar. Segala kemudahan ini datangnya dari Allah semata.

Review Presentasi : Indonesia Should Not to be a Fatherless Country

Presentasi ke-5 Kelompok 4 Tema / Judul Presentasi : Indonesia Should Not to be a Fatherless Country Fokus pada permasalahan ‘darurat Ayah’, dimana ayah hanya berfungsi sebagai pencari nafkah saja. Fatherless, ketika ayah hanya hadir secara biologis tidak hadir secara psikologis di dalam jiwa anak.  Dampak dari ketidakhadiran ayah dapat membuat : ·        Sex role model anak menjadi kacau ·        Bagi seorang anak wanita akan membuatnya bingung dan tidak tahu harus mencari seorang pria yang seperti apa dalam hidupnya. ·        Hilangnya sisi maskulinitas yang mengajarkan soal ketegasan dan kedisiplinan. Peran Ayah dalam keluarga, 1.        A man of mission and vision 2.        Pensuplai Ego 3.        Pembangun Struktur Berpikir dan Rasionalitas 4.   ...