Skip to main content

Memahami Gaya Belajar Anak - Day 1

Alhamdulillah saya bisa mulai menulis lagi. Fiuuh.... Setelah game level 3 tidak terselesaikan dengan baik akibat mondar-mandir Jakarta-Cilegon dan kami pun tumbang semua, alias sakit.

Game level 4 kali ini bertema Memahami Gaya Belajar Anak. Sebelum paham benar dengan beberapa macam gaya belajar anak, perlu dimengerti terlebih dahulu yang menjadi tujuan dari anak-anak belajar, diantaranya :
  1. Meningkatkan rasa ingin tahu anak (Intellectual Curiosity)
  2. Meningkatkan daya kreasi dan imajinasinya (Creative Imagination)
  3. Mengasah seni / cara anak agar selalu bergairah untuk menemukan sesuatu (Art of Discovery and Invention)
  4. Meningkatkan akhlak mulia anak-anak (Noble Attitude)

Saya pun akhirnya selalu menelaah lebih lanjut, apakah yang sedang dilakukan Arsyad berkegiatan mengandung (paling tidak) tujuan tersebut. Sebenarnya selama beberapa hari ini saya mulai mencari tahu bagaimana anak saya belajar. Hanya saja baru sempat menulis sekarang :)

Setelah mengetahui dan memahami tujuan dari anak belajar, kita juga harus paham beberapa macam gaya belajar anak. Ada 3 macam modalitas belajar anak, yaitu:
  • Auditory : Modalitas ini mengakses segala macam bunyi, suara, musik, nada, irama, cerita, dialog, dan pemahaman materi pelajaran dengan menjawab atau mendengarkan lagu, syair, dan hal-hal lain yang terkait.
  • Visual : Modalitas ini mengakses citra visual. warna, gambar, catatan, tabel diagram, grafik, serta peta pikiran, dan hal-hal lalin yang terkait.
  • Kinestetik : Modalitas ini mengakses segala jenis gerak, aktifitas tubuh, emosi, koordinasi, dan hal-hal lain yang terkait.
Selama ini saya merasa bahwa Arsyad termasuk anak yang sangat cepat menyerap sesuatu yang ada disekitarnya dengan gaya visual. Tetapi setelah lebih dalam memahami 'teori' yang ada. Adanya tambahan diskusi yang saya ikuti, akhirnya saya penasaran "Apa benar anak saya ini tipe anak visual? Yakin? Sudah mencoba menstimulus dengan gaya belajar yang lain?" Huhuhuhuhuu.... Kenapa saya malah bertanya seperti ini? Ya, karena saya tipe orang yang visual. Tidak suka hanya mendengar, tapi lebih ingin melihat secara visual saat sedang belajar. Dari sini saya menyimpulkan bahwa mungkin stimulus yang saya kenalkan keanak mungkin masih sebatas visual karena itu lebih mudah untuk saya dalam menyampaikan atau mencari ide-ide saat menstimulus.

Alhamdulillah saya mulai memahami ini disaat usia anak belum menginjak 24bulan. Saya pun mulai membuka-buka lagi buku yang ada di rumah dan mulai saya baca kembali. Karena terkadang mencari permainan untuk anak itu susah-susah gampang. Saya ingin anak bisa explore semua yang bisa di explore supaya nantinya dia dapat menentukan sendiri apa yang disuka, gaya belajar yang sesuai, dst.

Saya mulai mencoba dengan menstimulus secara audio. Ini pun kelemahan saya. Karena saya susah paham jika hanya audio. Jadi, disaat anak belajar, sesungguhnya ada Ibu yang lebih belajar dengan keras. hahahha... Saya mulai mencoba bernyanyi. Saya sangat jaraaaaang sekali menyanyi. Biasanya tugas itu saya serahkan ke media yang lain. Saya coba bersenandung lagu Cicak di Dinding. Dalam sehari saya sangat sering mengulang lagu ini. Hasilnya? LUAR BIASA. Sore hari Arsyad sudah mulai mencoba bersenandung lagu cicak sendiri walaupun masih sulit karena dia masih tahap belajar berbicara. Kalimat yang sering dia ucapkan "cicak dinding...cicak dinding.... hap" hahhaha..Tapi saat saya mulai mengikuti dia bernyanyi, dia bisa menyelesaikan 1 lagu dengan terbata-bata. Ibuk so proud of you, Nak.

Saya tidak mau kehilangan momen emas ini. Akhirnya saya mulai membiasakan untuk mengaji bersama Arsyad. Setiap saya selesai sholat, Arsyad langsung saya pangku dan saya mulai dari surat-surat pendek. Saat ini target terdekat adalah surat Al Fatihah, An Nas, Al Falaq, Al Ikhlas dan Ayat Kursi. Walaupun sehari-hari kami mencoba mendengarkan murotal quran dengan media lain, tapi kali ini saya ingin memulai dari Ibunya dulu. Saya ingin anak saya bisa mengaji dari orang tuanya terlebih dahulu. Semoga selalu istiqomah mengajarkan apa yang kami bisa untuk anak.

Ah, sekian cerita kali ini. Semoga dalam proses membersamai anak untuk paham mengenai gaya belajarnya bisa selalu lancar dan istiqomah menuangkannya dalam bentuk narasi.

#Day1
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KelasBunsayIIP


Comments

Popular posts from this blog

Fitrah Seksualitas : Latih Kebiasaan Sehari-hari

Penyimpangan bisa saja terjadi karena perilaku sehari-hari yang tanpa kita sadari dapat memicu perilaku yang tidak semestinya. Mungkin bagi kita hal itu tidak penting, tapi bisa jadi, untuk anak kita atau orang lain yang fitrah seksualitasnya belum berakhir dengan sempurna malah menjadi 'tanda tanya' besar untuknya kelak.  Seperti salah satu kutipan dalam presentasi "Parenting is not about the kids, It's about the parents". Anak adalah peniru ulung, maka sebagai orang tua sudah sepatutnya memberikan contoh yang terbaik untuk anaknya. Terutama dalam kebiasaan sehari-hari yang nantinya akan menjadi kebiasaannya kelak suatu hari. Saya mulai membiasakan sedari dini pada anak, saat mandi ya harus di kamar mandi, pintu tertutup. Kalo terbuka biasanya saya langsung komentar, "eh, maluuuu... gak pakai baju. Ayo ditutup pintunya."  Paling bikin deg-deg an saat ini adalah karena anak masih super nempel sama saya, padahal ini sudah 1bulan lebih di ruma...

Aliran Rasa - Fitrah Seksualitas

Alhamdulillah, semakin hari anak saya semakin paham akan gendernya. Terlebih lagi dalam pelaksanaan ibadah. Ramadhan kali ini saya sering mengajaknya buka bersama di masjid dekat rumah eyangnya di Jogja. Semakin dia paham kalo sholat laki-laki di shaf laki-laki. Perempuan dengan perempuan. Alhamdulillah dia sendiri yang meminta saat sholat akan dimulai, dia mencari eyang papinya dan berkata, "Arsyad sholat sama eyang papi. Ibu sholat sama eyang mami." Masya Allah... Kami orang tua hanya bisa berikhtiar. Segala kemudahan ini datangnya dari Allah semata.

Review Presentasi : Indonesia Should Not to be a Fatherless Country

Presentasi ke-5 Kelompok 4 Tema / Judul Presentasi : Indonesia Should Not to be a Fatherless Country Fokus pada permasalahan ‘darurat Ayah’, dimana ayah hanya berfungsi sebagai pencari nafkah saja. Fatherless, ketika ayah hanya hadir secara biologis tidak hadir secara psikologis di dalam jiwa anak.  Dampak dari ketidakhadiran ayah dapat membuat : ·        Sex role model anak menjadi kacau ·        Bagi seorang anak wanita akan membuatnya bingung dan tidak tahu harus mencari seorang pria yang seperti apa dalam hidupnya. ·        Hilangnya sisi maskulinitas yang mengajarkan soal ketegasan dan kedisiplinan. Peran Ayah dalam keluarga, 1.        A man of mission and vision 2.        Pensuplai Ego 3.        Pembangun Struktur Berpikir dan Rasionalitas 4.   ...