Skip to main content

Memahami Gaya Belajar Anak - Day 5

Hari ke 5 (17/09) Arsyad mulai terlihat lebih cepat menangkap aturan/perintah (modalitas audio) dengan cepat. Tetap dengan intonasi yang menyenangkan dan tidak seperti hanya memerintah saja, Arsyad lebih mau untuk mengikuti petunjuk yang diberikan daripada hari-hari sebelumnya. Berawal dari setiap hari saya mulai memutarkan mp3 dogeng mengenai gigi sehat, memaksimalkan murotal quran, dan bernyanyi. Efek yang ada melatih Arsyad untuk mendengarkan dengan lebih baik apa yang dia dengar. 

Saya jadi mulai memahami, karena itulah orang-orng yang berkebutuhan khusus (tuna rungu, tuna netra, dll) pasti memiliki keunggulan lebih pada panca inderanya yang lain. Lebih sensitif, pemanfaatan semaksimal mungkin. Ah, bersyukur kami sekeluarga masih diberi kesehatan fisik maupun psikis. 

Modalitas kinestetik, saya mulai melatihnya untuk membawa piring makannya sendiri yang sudah diisi. Akhir-akhir ini seringkali Arsyad tidak sabaran untuk segera makan. Kalau saya sudah terlihat membawa piringnya, mengambil nasi, pasti dia langsung ingin membawa pirinya sendiri ke meja makannya. Disinilah saya mencoba melatih bagaimana dia bisa membawa piring dengan baik tanpa menumpahkan isinya. Alhamdulillah percobaan pertama sukses. Perlahan namun pasti akhirnya Arsyad bisa membawa piringnya sendiri. Disini sekaligus bisa melatih kesabaran dan koordinasi antara tangan. kaki, dan matanya. Karena Arsyad tipe yang mudah terdistraksi.

#Day5
#Tantangan10Hari
#Level4
#GayaBelajarAnak
#KelasBunsayIIP

Comments

Popular posts from this blog

Fitrah Seksualitas : Latih Kebiasaan Sehari-hari

Penyimpangan bisa saja terjadi karena perilaku sehari-hari yang tanpa kita sadari dapat memicu perilaku yang tidak semestinya. Mungkin bagi kita hal itu tidak penting, tapi bisa jadi, untuk anak kita atau orang lain yang fitrah seksualitasnya belum berakhir dengan sempurna malah menjadi 'tanda tanya' besar untuknya kelak.  Seperti salah satu kutipan dalam presentasi "Parenting is not about the kids, It's about the parents". Anak adalah peniru ulung, maka sebagai orang tua sudah sepatutnya memberikan contoh yang terbaik untuk anaknya. Terutama dalam kebiasaan sehari-hari yang nantinya akan menjadi kebiasaannya kelak suatu hari. Saya mulai membiasakan sedari dini pada anak, saat mandi ya harus di kamar mandi, pintu tertutup. Kalo terbuka biasanya saya langsung komentar, "eh, maluuuu... gak pakai baju. Ayo ditutup pintunya."  Paling bikin deg-deg an saat ini adalah karena anak masih super nempel sama saya, padahal ini sudah 1bulan lebih di ruma...

Aliran Rasa - Fitrah Seksualitas

Alhamdulillah, semakin hari anak saya semakin paham akan gendernya. Terlebih lagi dalam pelaksanaan ibadah. Ramadhan kali ini saya sering mengajaknya buka bersama di masjid dekat rumah eyangnya di Jogja. Semakin dia paham kalo sholat laki-laki di shaf laki-laki. Perempuan dengan perempuan. Alhamdulillah dia sendiri yang meminta saat sholat akan dimulai, dia mencari eyang papinya dan berkata, "Arsyad sholat sama eyang papi. Ibu sholat sama eyang mami." Masya Allah... Kami orang tua hanya bisa berikhtiar. Segala kemudahan ini datangnya dari Allah semata.

Review Presentasi : Indonesia Should Not to be a Fatherless Country

Presentasi ke-5 Kelompok 4 Tema / Judul Presentasi : Indonesia Should Not to be a Fatherless Country Fokus pada permasalahan ‘darurat Ayah’, dimana ayah hanya berfungsi sebagai pencari nafkah saja. Fatherless, ketika ayah hanya hadir secara biologis tidak hadir secara psikologis di dalam jiwa anak.  Dampak dari ketidakhadiran ayah dapat membuat : ·        Sex role model anak menjadi kacau ·        Bagi seorang anak wanita akan membuatnya bingung dan tidak tahu harus mencari seorang pria yang seperti apa dalam hidupnya. ·        Hilangnya sisi maskulinitas yang mengajarkan soal ketegasan dan kedisiplinan. Peran Ayah dalam keluarga, 1.        A man of mission and vision 2.        Pensuplai Ego 3.        Pembangun Struktur Berpikir dan Rasionalitas 4.   ...