Skip to main content

Pohon Literasi - Day 3

Satu hari ini (Sabtu, 28Okt) kami menghabiskan 1 hari dengan perjalan PP Cilegon-Lampung Tengah - Cilegon demi menghadiri pernikahan sahabat saya sejak SMA. Tadinya khawatir apakah Arsyad akan sanggup mengikuti perjalanan panjang ini. Syukurlah ada sedikit (banyak sepertinya) hiburan yang tersaji selama perjalanan ini berlangsung.

Rumah mertua yang berada di Cilegon, dekat dengan penyebrangan, memberikan suasana yang berbeda. Apalagi kami berkesempatan untuk akhirnya mencoba naik kapal penyebrangan dari Merak - Bakauhini. Seru sekali. Anak saya sampai heboh sendiri bilang, "kapal laut..kapal laut" , "Arsyad mau naik kapal laut, Ibuuu", dst. Selain itu, selama diperjalanan darat kami juga menjumpai banyak bus besar, truk besar, eskavator, traktor, dll. Alat-alat berat tersebut adalah kesukaan Arsyad saat ini karena kalau sedang jalan-jalan di Jakarta ya apalagi yang kami lihat kalo bukan itu. Tips untuk menghindari anak super cranky di tengah kemacetan ibu kota.

Beberapa buku yang saya siapkan untuk menemani perjalanan jauh kali ini adalah Come and Ride with Us terbitan Child's Play (international) Ltd, My First Farm dari Hinkler Books. Saya lebih suka mengajarkan anak untuk membaca sekaligus melihat langsung apa yang ada di buku dengan apa yang ada di kehidupan nyata. Supaya anak juga bisa langsung membandingkan langsung, merasakan langsung pengalaman yang ada bagaimana saat kita hanya melihatnya dari buku dan bagaimana kita langsung melihat bendanya dengan mata sendiri.

Tidak terlalu banyak buku yang bisa kami baca saat perjalanan jauh seperti ini. Saya pun hanya membawa 2 3 buku untuk dibawa keluar kota. Ah, tak mengapa hanya sedikit. Selama anak saya masih mau membuka buku itu berkali-kali tanpa ada rasa bosan dan tetap senang.

#Day3
#Tantangan10Hari
#Level5
#Bunda Sayang
#Ibu Profesional
#IIP
#For Things To Change, I Must Change First


- 28 Okt -

Comments

Popular posts from this blog

Fitrah Seksualitas : Latih Kebiasaan Sehari-hari

Penyimpangan bisa saja terjadi karena perilaku sehari-hari yang tanpa kita sadari dapat memicu perilaku yang tidak semestinya. Mungkin bagi kita hal itu tidak penting, tapi bisa jadi, untuk anak kita atau orang lain yang fitrah seksualitasnya belum berakhir dengan sempurna malah menjadi 'tanda tanya' besar untuknya kelak.  Seperti salah satu kutipan dalam presentasi "Parenting is not about the kids, It's about the parents". Anak adalah peniru ulung, maka sebagai orang tua sudah sepatutnya memberikan contoh yang terbaik untuk anaknya. Terutama dalam kebiasaan sehari-hari yang nantinya akan menjadi kebiasaannya kelak suatu hari. Saya mulai membiasakan sedari dini pada anak, saat mandi ya harus di kamar mandi, pintu tertutup. Kalo terbuka biasanya saya langsung komentar, "eh, maluuuu... gak pakai baju. Ayo ditutup pintunya."  Paling bikin deg-deg an saat ini adalah karena anak masih super nempel sama saya, padahal ini sudah 1bulan lebih di ruma...

Aliran Rasa - Fitrah Seksualitas

Alhamdulillah, semakin hari anak saya semakin paham akan gendernya. Terlebih lagi dalam pelaksanaan ibadah. Ramadhan kali ini saya sering mengajaknya buka bersama di masjid dekat rumah eyangnya di Jogja. Semakin dia paham kalo sholat laki-laki di shaf laki-laki. Perempuan dengan perempuan. Alhamdulillah dia sendiri yang meminta saat sholat akan dimulai, dia mencari eyang papinya dan berkata, "Arsyad sholat sama eyang papi. Ibu sholat sama eyang mami." Masya Allah... Kami orang tua hanya bisa berikhtiar. Segala kemudahan ini datangnya dari Allah semata.

Fitrah Seksualitas : Peran Ayah Penting!

Peran Ayah Penting! Akibat saya selalu 24jam bersama anak terus, maka kehadiran sosok Ayah sangat dibutuhkan. Terutama anak saya pertama laki-laki. Khawatir jelas saat anak harus selalu melihat Ibunya berdandan sebelum pergi. Selalu bertanya, "ini apa?" "itu apa?" "Arsyad mau Ibu". Kalimat ini sering muncul dikala saya sedang berdandan. Kalo ada Ayahnya bisa ada pengalihan isu dengan cepat seperti ayahnya mengajak berkegiatan dulu disaat menunggu Ibu berdandan. Tapi jika tidak ada Ayahnya, ini yang saya takutkan. Karena itulah saya juga tidak pernah berdandan terlalu lama. Biasanya 5 menit juga sudah selesai karena hanya pakai pelembab, bedak, lipstik.  Peran Ayah Penting! Terutama jika Ayah aktif bekerja di luar rumah dan jarang bertatap muka dengan anak. Apalagi jika orang tua dalam keadaan LDR (seperti keadaan saya saat ini karena sedang menunggu munculnya gelombang cinta dari anak ke 2, insyaAllah). Karena itulah, disaat Ayahnya sedang ada did...