Skip to main content

Melatih Kemandirian Anak

Alhamdulillah akhirnya ada kesempatan lagi untuk kembali menulis. Rencananya untuk 10hari ke depan harus selalu wajib setor tulisan karena saya sudah absen berhari-hari dari sejak waktu game level 2 kelas Bunda Sayang dimulai. hehehe

Bulan ini materi baru sudah diberikan di kelas Bunda Sayang IIP. Tema yang diberikan adalah melatih kemandirian anak. Mendapatkan materi ini seraya dikuatkan lagi niat saya untuk tetap terus menerapkan apa yang selama ini sudah saya dan suami lakukan untuk anak. Walaupun kadang kendor karena kurang sabar menemani Arsyad.

Hidup di Jakarta dan hanya bertiga membuat kami benar-benar harus bisa melakukan semuanya serba sendiri. Terutama hal-hal pribadi yang memang seharusnya dilakukan sendiri pun bisa. Dalam hal urusan pekerjaan rumah, saya dan suami membagi tugas masing-masing. Karena suami paham, menemani anak 24jam non stop itu juga butuh tenaga super extra. hahahahha.... Itulah sebabnya suami juga punya peran sangat besar dalam urusan pekerjaan rumah. Terlebih kami juga sudah memulai bisnis kecil-kecilan yang sedang ingin dibangun lagi menjadi kuat. Tenaga yang kami butuhkan pun menjadi extra.

Saat ini kami juga sedang memprogram untuk mempunyai anak ke 2. Mau tidak mau, Arsyad benar-benar ingin kami latih untuk bisa melakukan apa yang sebenarnya sudah bisa dia lakukan sendiri. Sama seperti materi yang diberikan, untuk anak umur 1-3th, kemandirian yang bisa dilatih seperti makan sendiri, toilet training, mengatakan apa yang diinginkan. Hal itu juga yang sedang saya latih untuk anak saya.

Sejak awal pertama kali Arsyad mulai makan, saya mencoba teknik BLW (Baby-Led-Weaning). Sungguh cara ini begitu menakjubkan. Hal paling penting yang saya jaga saat melakukan blw adalah
1. Mood baby oke.
2. Mood ibu/ yang menemani makan baby juga oke.
3. Baby wajib duduk tegak. Saat umur 6bulan, Arsyad masih belum begitu tegak duduknya. Maka di booster duduknya saya tambahi bantal2 kecil sebagai penyangga.
4. Finger food yang sesuai.
5. Keyakinan dari orang tua bahwa anaknya pasti bisa :)
 It works buibu :)

Kesalahan saya, karena saat itu kejar berat badan Arsyad yang belum significant naiknya, maka sambil Arsyad makan sendiri saya juga suapin. Duh. Ini adalah kesalahan yang akhirnya saat ini saya rasakan akibatnya :))) Tapi, apapun caranya pasti ibunya tau yang terbaik :)

Sekarang dengan umur 21bulan ini Arsyad saya latih dengan cara berikan makanan favoritnya, mudah diambil dengan tangan dan sendok, lingkungan yang kondusif. Susah memang untuk tetap menjaga fokus anak. Tapi ya disitulah tantangannya. Salah satu latihan yang saya terapkan adalah saat sarapan. Saya buatkan sarapan yang paling mudah saya buat dan dia makan. Kentang goreng homemade dan telur ceplok >.<




Hal paling sulit saat Arsyad makan sendiri adalah fokus. Terutama saat menunggu Arsyad mengunyah makanannya pasti dia mencari-cari apa yang bisa dilakukan saat dia mengunyah. Padahal ayah+ibunya masih asik makan di satu meja yang sama. Tapi, Arsyad bisa duduk dan makan selama 5-7menit saja saya sudah bersyukur.

Yuk nak besok kita latihan lagi. Semoga Ibu Ayah selalu sehat. Jadi bisa maksimal kegiatan berproses kita :)

#Level2
#BunsayIIP
#MelatihKemandirian
#Tantangan10hari

Comments

Popular posts from this blog

Fitrah Seksualitas : Latih Kebiasaan Sehari-hari

Penyimpangan bisa saja terjadi karena perilaku sehari-hari yang tanpa kita sadari dapat memicu perilaku yang tidak semestinya. Mungkin bagi kita hal itu tidak penting, tapi bisa jadi, untuk anak kita atau orang lain yang fitrah seksualitasnya belum berakhir dengan sempurna malah menjadi 'tanda tanya' besar untuknya kelak.  Seperti salah satu kutipan dalam presentasi "Parenting is not about the kids, It's about the parents". Anak adalah peniru ulung, maka sebagai orang tua sudah sepatutnya memberikan contoh yang terbaik untuk anaknya. Terutama dalam kebiasaan sehari-hari yang nantinya akan menjadi kebiasaannya kelak suatu hari. Saya mulai membiasakan sedari dini pada anak, saat mandi ya harus di kamar mandi, pintu tertutup. Kalo terbuka biasanya saya langsung komentar, "eh, maluuuu... gak pakai baju. Ayo ditutup pintunya."  Paling bikin deg-deg an saat ini adalah karena anak masih super nempel sama saya, padahal ini sudah 1bulan lebih di ruma...

Aliran Rasa - Fitrah Seksualitas

Alhamdulillah, semakin hari anak saya semakin paham akan gendernya. Terlebih lagi dalam pelaksanaan ibadah. Ramadhan kali ini saya sering mengajaknya buka bersama di masjid dekat rumah eyangnya di Jogja. Semakin dia paham kalo sholat laki-laki di shaf laki-laki. Perempuan dengan perempuan. Alhamdulillah dia sendiri yang meminta saat sholat akan dimulai, dia mencari eyang papinya dan berkata, "Arsyad sholat sama eyang papi. Ibu sholat sama eyang mami." Masya Allah... Kami orang tua hanya bisa berikhtiar. Segala kemudahan ini datangnya dari Allah semata.

Review Presentasi : Indonesia Should Not to be a Fatherless Country

Presentasi ke-5 Kelompok 4 Tema / Judul Presentasi : Indonesia Should Not to be a Fatherless Country Fokus pada permasalahan ‘darurat Ayah’, dimana ayah hanya berfungsi sebagai pencari nafkah saja. Fatherless, ketika ayah hanya hadir secara biologis tidak hadir secara psikologis di dalam jiwa anak.  Dampak dari ketidakhadiran ayah dapat membuat : ·        Sex role model anak menjadi kacau ·        Bagi seorang anak wanita akan membuatnya bingung dan tidak tahu harus mencari seorang pria yang seperti apa dalam hidupnya. ·        Hilangnya sisi maskulinitas yang mengajarkan soal ketegasan dan kedisiplinan. Peran Ayah dalam keluarga, 1.        A man of mission and vision 2.        Pensuplai Ego 3.        Pembangun Struktur Berpikir dan Rasionalitas 4.   ...