Skip to main content

Tantangan 10 Hari (part.5)

"Jeduuuuggg"
Saya kaget. Arsyad terpeleset saat berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Alhamdulillah dia kuat menahan kepalanya sendiri supaya tidak terbentur. Pecahlah tangisnya. Seketika itu juga langsung saya gendong dan peluk sambil meminta maaf karena teledor tidak menjaganya saat masuk kamar mandi.

Sambil berusaha tetap tenang dan tidak panik saya pun bilang,
"Maaf ya nak. Duh.. ibu kok ya gak jagain Arsyad masuk kamar mandi. Maaf ya".
Dia masih menangis.. tidak kencang. Tapi cukup bikin saya sedih. Ditambah dia sudah mengantuk, jadilah moodnya tidak senang.

Saat anak saya terjatuh, terpeleset, terbentur, dll, saya selalu berusaha tetap tenang dan tidak panik. Karena dari sanalah anak akan meniru ekspresi kita. Saya dan suami lebih ekspresif kalo sedang bahagia. Pernah kejadian anak saya terjatuh, budhenya kaget luar biasa sampai teriak. Anak saya? Nangisnya menjadi-jadi. Dia sudah kaget karena terjatuh, ditambah kaget lagi karena ada suara yang lebih heboh dari tangisnya. Biasanya kalo jatuh yang benar-benar sakit tidak lebih dari 1 menit. Kali ini tangisannya luar biasa dari saya mulai sholat rokaat pertama sampai rokaat 4 belum juga selesai. Bahkan sampai sesenggukan.

"Masih sakit? Badannya sakit?"
"Arsyad tadi kepleset ya?" Saya mulai membuka percakapan saat Arsyad sudah mulai tenang.
"Ghhhh..hh,..hh.. sana.." jawabnya sambil menunjuk lokasi dia jatuh.
"Maaf ya nak. Yuk, kita ingat sama-sama kalo masuk kamar mandi. Masuk kaki kiri, hati-hati, jangan lupa pegangan."

Hanya bisa sebatas itu saya mengingatkan. Karena percuma juga panjang-panjang menasehati. Masih juga usia toddler, bicara masih ala kadarnya. Walaupun pemahaman bahasanya bagus, tetap saja saya tidak mau terlalu banyak memberi nasehat. KISS, keep information short and simple. Begitu katanya salah satu poin dalam komunikasi produktif.

#level1
#day5
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Comments

Popular posts from this blog

Fitrah Seksualitas : Latih Kebiasaan Sehari-hari

Penyimpangan bisa saja terjadi karena perilaku sehari-hari yang tanpa kita sadari dapat memicu perilaku yang tidak semestinya. Mungkin bagi kita hal itu tidak penting, tapi bisa jadi, untuk anak kita atau orang lain yang fitrah seksualitasnya belum berakhir dengan sempurna malah menjadi 'tanda tanya' besar untuknya kelak.  Seperti salah satu kutipan dalam presentasi "Parenting is not about the kids, It's about the parents". Anak adalah peniru ulung, maka sebagai orang tua sudah sepatutnya memberikan contoh yang terbaik untuk anaknya. Terutama dalam kebiasaan sehari-hari yang nantinya akan menjadi kebiasaannya kelak suatu hari. Saya mulai membiasakan sedari dini pada anak, saat mandi ya harus di kamar mandi, pintu tertutup. Kalo terbuka biasanya saya langsung komentar, "eh, maluuuu... gak pakai baju. Ayo ditutup pintunya."  Paling bikin deg-deg an saat ini adalah karena anak masih super nempel sama saya, padahal ini sudah 1bulan lebih di ruma...

Aliran Rasa - Fitrah Seksualitas

Alhamdulillah, semakin hari anak saya semakin paham akan gendernya. Terlebih lagi dalam pelaksanaan ibadah. Ramadhan kali ini saya sering mengajaknya buka bersama di masjid dekat rumah eyangnya di Jogja. Semakin dia paham kalo sholat laki-laki di shaf laki-laki. Perempuan dengan perempuan. Alhamdulillah dia sendiri yang meminta saat sholat akan dimulai, dia mencari eyang papinya dan berkata, "Arsyad sholat sama eyang papi. Ibu sholat sama eyang mami." Masya Allah... Kami orang tua hanya bisa berikhtiar. Segala kemudahan ini datangnya dari Allah semata.

Fitrah Seksualitas : Peran Ayah Penting!

Peran Ayah Penting! Akibat saya selalu 24jam bersama anak terus, maka kehadiran sosok Ayah sangat dibutuhkan. Terutama anak saya pertama laki-laki. Khawatir jelas saat anak harus selalu melihat Ibunya berdandan sebelum pergi. Selalu bertanya, "ini apa?" "itu apa?" "Arsyad mau Ibu". Kalimat ini sering muncul dikala saya sedang berdandan. Kalo ada Ayahnya bisa ada pengalihan isu dengan cepat seperti ayahnya mengajak berkegiatan dulu disaat menunggu Ibu berdandan. Tapi jika tidak ada Ayahnya, ini yang saya takutkan. Karena itulah saya juga tidak pernah berdandan terlalu lama. Biasanya 5 menit juga sudah selesai karena hanya pakai pelembab, bedak, lipstik.  Peran Ayah Penting! Terutama jika Ayah aktif bekerja di luar rumah dan jarang bertatap muka dengan anak. Apalagi jika orang tua dalam keadaan LDR (seperti keadaan saya saat ini karena sedang menunggu munculnya gelombang cinta dari anak ke 2, insyaAllah). Karena itulah, disaat Ayahnya sedang ada did...