Skip to main content

Tantangan 10 Hari (part. 7)

Beberapa hari ini kesehatan penghuni rumah kami sedang drop. Bermula dari anak yang tiba-tiba flu, ibu yang kondisi badannya sedang lemah akhirnya tertular. Anak sakit ibu sakit itu tandanya lebih banyak tiduran daripada berkegiatan.

Saat makan siang dan obat kulit arsyad dari RSPP baru saja sampai.
"Pyoookk"
"Astagfirullah", nada kaget saya keluar spontan. Arsyad rupanya berhasil membuka tutup obatnya dan tumpah semua. Disini batas sabar saya langsung hilang entah kemana.
"Arsyad. Stop. Duduk sini. Jangan bergerak"
Saya lebih memilih diam saat emosi sedang tinggi.

Makan siang pun dilanjutkan. Tinggal suapan terakhir dan tangan Arsyad menampis sendok. Makanan jatuh semua. Hmmm... kesabaran saya benar-benar diuji.
Setelah ganti baju, ganti diapers, dan siap untuk tidur siang, saya sengaja untuk menunda memberikan asi untuk Arsyad. Karena saya ingin mengatakan apa yang saya rasa.

Arsyad menangis heboh karena asi tidak saya berikan.
"Arsyad, ibu mau bilang sesuatu. Nenennya nanti."
"Masih mau nangis dulu? Oke. Ibu tunggu nangisnya sampr selesai ya"
Masih tetap menangis. Saya kekeuh tidak memberikan asi. Saya ingin lihat berapa lama dia akan menangis.
"Iya.. gakpapa. Ibu tunggu Arsyad sampai nangisnya selesai."
Tiba tiba,
"Sudah? Nangisnya sudah selesai?"
"...dah.." begitu katanya sambil sedikit terisak. Wow. Ternyata iya, cara ini bisa diterapkan (batin saya).
"Oke. Sini ibu peluk dulu."
"Arsyad sedih ya tadi? Sampe nangis."
"Iya", jawabnya.
"Arsyad, Ibu juga sedih. Ibu sedih kalo Arsyad buang-buang obatnya. Ibu juga salah sih obatnya gak langsung ibu simpen."
"Ibu juga sedih dan marah kalo Arsyad makannya nggak duduk dan sengaja buang makanan."
"Anak sholeh, Ibu baru sakit. Arsyad juga belum fit badannya. Ayok kita kerjasama ya. Bantuin ibu. Makan yang baik."

Selama berbincang posisi Arsyad saya pangku karena dia memang inginnya dipangku.

Oh. Memang. Berat rasanya menjalani urusan parenting saat badan sedang tidak fit. Benar2 sedang drop. Tapi saya yakin apa yang ditanam saat ini pasti akan bisa petik suatu saat. Semoga bisa selalu menjadi orangtua terbaik untuk anak-anak 😊

#level1
#day7
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Comments

Popular posts from this blog

Fitrah Seksualitas : Latih Kebiasaan Sehari-hari

Penyimpangan bisa saja terjadi karena perilaku sehari-hari yang tanpa kita sadari dapat memicu perilaku yang tidak semestinya. Mungkin bagi kita hal itu tidak penting, tapi bisa jadi, untuk anak kita atau orang lain yang fitrah seksualitasnya belum berakhir dengan sempurna malah menjadi 'tanda tanya' besar untuknya kelak.  Seperti salah satu kutipan dalam presentasi "Parenting is not about the kids, It's about the parents". Anak adalah peniru ulung, maka sebagai orang tua sudah sepatutnya memberikan contoh yang terbaik untuk anaknya. Terutama dalam kebiasaan sehari-hari yang nantinya akan menjadi kebiasaannya kelak suatu hari. Saya mulai membiasakan sedari dini pada anak, saat mandi ya harus di kamar mandi, pintu tertutup. Kalo terbuka biasanya saya langsung komentar, "eh, maluuuu... gak pakai baju. Ayo ditutup pintunya."  Paling bikin deg-deg an saat ini adalah karena anak masih super nempel sama saya, padahal ini sudah 1bulan lebih di ruma...

Aliran Rasa - Fitrah Seksualitas

Alhamdulillah, semakin hari anak saya semakin paham akan gendernya. Terlebih lagi dalam pelaksanaan ibadah. Ramadhan kali ini saya sering mengajaknya buka bersama di masjid dekat rumah eyangnya di Jogja. Semakin dia paham kalo sholat laki-laki di shaf laki-laki. Perempuan dengan perempuan. Alhamdulillah dia sendiri yang meminta saat sholat akan dimulai, dia mencari eyang papinya dan berkata, "Arsyad sholat sama eyang papi. Ibu sholat sama eyang mami." Masya Allah... Kami orang tua hanya bisa berikhtiar. Segala kemudahan ini datangnya dari Allah semata.

Fitrah Seksualitas : Peran Ayah Penting!

Peran Ayah Penting! Akibat saya selalu 24jam bersama anak terus, maka kehadiran sosok Ayah sangat dibutuhkan. Terutama anak saya pertama laki-laki. Khawatir jelas saat anak harus selalu melihat Ibunya berdandan sebelum pergi. Selalu bertanya, "ini apa?" "itu apa?" "Arsyad mau Ibu". Kalimat ini sering muncul dikala saya sedang berdandan. Kalo ada Ayahnya bisa ada pengalihan isu dengan cepat seperti ayahnya mengajak berkegiatan dulu disaat menunggu Ibu berdandan. Tapi jika tidak ada Ayahnya, ini yang saya takutkan. Karena itulah saya juga tidak pernah berdandan terlalu lama. Biasanya 5 menit juga sudah selesai karena hanya pakai pelembab, bedak, lipstik.  Peran Ayah Penting! Terutama jika Ayah aktif bekerja di luar rumah dan jarang bertatap muka dengan anak. Apalagi jika orang tua dalam keadaan LDR (seperti keadaan saya saat ini karena sedang menunggu munculnya gelombang cinta dari anak ke 2, insyaAllah). Karena itulah, disaat Ayahnya sedang ada did...